ImagiLIVE -  Hebergement Gratuit d'image

Membangun Keluarga Utama

Perubahan mindset BMT akibat perubahan jati diri dari lembga keuangan menjadi lembaga dakwah dibidang keuangan, bersama para anggota KSPPS Mitra Anda Sejahtera

ImagiLIVE -  Hebergement Gratuit d'image

Ringankan Beban dan Jadi Paling bermanfaat

Program Wakaf Ambulance senilai Rp. 180 Juta Kami luncurkan, GRATIS untuk Dhuafa dan Infaq bagi yang mampu, serta mendukung dakwah Islam dan tanggap bencana

ImagiLIVE -  Hebergement Gratuit d'image

Bantu Anak Indonesia Berprestasi

Masing-masing anak memiliki potensi dan kecerdasannya sendiri sendiri. Mereka bisa menjadi berprestasi sesuai dengan cita-cita dan potensi mereka dengan dukungan dari orang-orang terdekat, lingkungan dan kegiatan kegiatan yang membangun pribadi mereka

ImagiLIVE -  Hebergement Gratuit d'image

Wakaf Produktif hasilnya untuk ummat

Wakaf uang, salah satu wakaf produktif yang sangat flexible penggunaannya, bermanfaat sebelum akhirnya hasilnya disedekahkan

ImagiLIVE -  Hebergement Gratuit d'image

Dunia Islam tersiksa, Kemanusiaan menangis

Disiksa, diusir, dibom, dibunuh, dari anak-anak sampai orang dewasanya. Hanya karena mereka beragama Islam...

Wakaf Uang Terhimpun

Total Wakaf Uang Terhimpun Sampai Bulan Desember 2017 Rp. 30.041.963,-

Senin, 29 Januari 2018

Lowongan Kerja Sebagai Staff Fundraising (Tenaga Penghimpunan Dana)





Dicari Segera
Staff Fundraising Baitul Maal ANDA

Syarat :
- Jujur
- Senang Jualan
- Supel
- Bisa bekerja dalam tim
- Suka Tantangan
- Totalitas
- Siap Bekerja Keras
- Senang Belajar
- Bekerja dengan Target
- Umur dibawah 30 Tahun
- Pendidikan Min. SMA/SMK
- Memiliki SIM C dan Motor Sendiri

Fasilitas :
- Gaji Menarik
- Bonus
- Pelatihan

JobDesc :
Membuat dan terus menambah Daftar Prospek Donatur
Melakukan penawaran terhadap semua daftar donatur
Menjemput Donasi dari Donatur
Merawat relasi dengan donatur
Melaporkan rencana dan aktivitas harian pada Atasan
Mengevaluasi Daftar prospek

Tools yang biasa digunakan untuk penawaran
Majalah
Brosur
Kotak Kecil
Kotak Besar
Nota Penerimaan Donasi

Jam Kerja
Senin-Jumat : 08.00-16.00
Sabtu : 08.00-11.00
Ahad : Sukarela


Bila tertarik silahkan kirim
Surat Lamaran
CV 
Foto terbaru
Sertifikat/Bukti keahlian yang menunjang profesi penjualan
Ijazah Terakhir
ke baitulmalanda@gmail.com atau
ke alamat Jl. Menoreh Utara Raya No. 1, Sampangan, Semarang,
setelah kirim konfirmasi SMS ke 08122849570
Pendaftaran terakhir tanggal 15 Februari 2018, Kirim lamaran anda segera

Selasa, 23 Januari 2018

Perbedaan Pendapat tentang Wakaf Uang, boleh atau tidak?


Pengertian Wakaf Uang Tunai 

        Wakaf tunai adalah wakaf yang dilakukan seseorang, suatu kelompok, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai, termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga, seperti saham dan cek.

      Sebelum membahas hukum wakaf tunai, perlu dijelaskan bahwa para ulama telah menetapkan salah satu syarat wakaf adalah harta yang diwakafkan harus bersifat tetap (tsabit), yaitu barang tersebut bisa dimanfaatkan tanpa merubah bentuknya.  Barang tetap  (tsabit) ini terbagi menjadi dua; pertama: barang yang tidak bisa dipindah-pindahkan (ghairu al-manqul), seperti tanah dan bangunan, kedua: barang yang bisa dipindahkan (al-manqul).

     Mereka sepakat tentang kebolehan wakaf dengan barang (ghairu al-manqul), tetapi mereka berbeda pendapat tentang hukum wakaf barang yang bisa dipindah (al-manqul). Perbedaan pendapat tersebut sebagai berikut:

      Pendapat Pertama: Tidak boleh wakaf dengan barang al-manqul secara mutlak. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan riwayat dari imam Ahmad.

    Pendapat Kedua: Boleh wakaf dengan barang al-manqul, jika barang tersebut sebagai pelengkap dari barang tidak al-manqul, atau jika terdapat dalil yang menyebutkan, seperti wakaf senjata. Ini pendapat Abu Yusuf.

    Pendapat Ketiga:  Boleh wakaf dengan barang al-manqul jika barang tersebut sebagai pelengkap dari barang tidak al-manqul, atau jika terdapat dalil yang menyebutkan hal tersebut, seperti wakaf senjata atau dengan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat bahwa barang tersebut diwakafkan. Ini pendapat Muhammad al-Hasan.

Dasarnya adalah Istihsan bi al-‘Urfi, (kebiasan masyarakat), seperti wakaf buku untuk para penuntut ilmu dan wakaf mushaf al-Qur’an untuk masyarakat.

Oleh karena itu, jika mewakafkan barang yang bisa dipindahkan tetapi belum membudaya di masyarakat, hukumnya kembali ke asal, yaitu tidak boleh. Pendapat Muhammad al-Hasan ini bertentangan dengan pendapat Abu Yusuf. Tetapi yang dijadikan fatwa dan qadha dalam madzhab Hanafi adalah pendapat Muhammad al-Hasan.  (Hasyiatu Ibn Abidin: 3/408, Fathu al-Qadir: 5/ 48)

Hukum Wakaf Tunai

      Dari perbedaan pendapat ulama di atas, pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang membolehkan wakaf al-manqul, karena lebih dekat kemaslahatan umat.

    Tetapi, para ulama yang membolehkan wakaf al- manqul pun masih berbeda pendapat tentang hukum wakaf tunai (uang), walaupun uang sendiri bagian dari al-manqul, tetapi uang mempunyai sifat-sifat sendiri yang berbeda dengan sifat-sifat barang lain. Perbedaan ulama tersebut teringkas dalam dua pendapat berikut:

      Pendapat Pertama: Wakaf tunai hukumnya tidak boleh. Ini pendapat Ibnu Abidin dari Hanafiyah dan madzhab Syafi’i.  (Abu Bakar al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, 412)

Ibnu Abidin berkata: “wakaf tunai (dengan dirham) merupakan kebiasaan yang berlaku di masyarakat Romawi, bukan dalam masyarakat kita. Begitu juga  wakaf kapak dan pisau pernah berlaku pada zaman terdahulu, tetapi tidak lagi pernah terdengar pada zaman kita. Untuk itu, tidak sah kalau diterapkan sekarang, seandainya-pun ada, maka sangat jarang terjadi dan itu tidak dianggap. (Sebagaimana diketahui) bahwa yang dijadikan standar adalah kebiasaan masyarakat yang sudah menyebar.“   (Hasyiatu Ibni Abidin: 3/375)

Mereka mempunyai dua alasan:

   Pertama: Uang zatnya bisa habis dengan sekali pakai. Uang hanya bisa dimanfaatkan dan dibelanjakan sehingga bendanya lenyap. Padahal inti dari wakaf adalah harta yang tetap. Oleh karena itu, ada persyaratan agar benda yang diwakafkan harus tahan lama dan tidak habis ketika dipakai.

Kedua: Uang diciptakan sebagai alat tukar, bukan untuk ditarik manfaatnya dengan mempersewakan zatnya

Pendapat Kedua: Wakaf tunai hukumnya boleh. Ini adalah pendapat Imam Zuhri, seorang ahli hadist, Muhammad bin Abdullah Al-Anshari, murid dari Zufar, sahabat Abu Hanifah, ini juga pendapat sebagian ulama mutaakhirin dari kalangan Hanafiyah dan sebagian ulama dari kalangan Syafii, sebagaimana disebutkan Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir, bahwa Abu Tsaur meriwayatkan hal itu dari Imam Syafi’i.

Di bawah ini beberapa nash dari mereka :

عَنِ الزُّهْرِي قَالَ:  فِيْمَنْ جَعَلَ أَلْفَ دِيْنَارٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ دَفَعَهَا إِلَى غُلَامٍ لَهُ تَاجِرٍ يَتَّجِرُ بِهَا، وَجَعَلَ رُبْحَهُ صَدَقَةٌ لِلْمَسَاكِيْنَ وَالْأَقْرَبِيْنَ

Dari  Imam Zuhri bahwasanya ia berkata: “ Tentang seseorang yang mewakafkan seribu dinar di jalan Allah, dan uang tersebut diberikan kepada pembantunya untuk diinvestasikan, kemudian keuntungannya disedekahkan untuk orang-orang miskin dan para kerabat. “ (Shahih Bukhari: 4/14)

جَاءَ فِي حَاشِيَةِ ابْنِ عَابِدِيْنَ :  وَعَنِ الْأَنْصَارِيْ ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ زُفَرِ ، فِيْمَنْ وَقَفَ الدَّرِاهِمَ أَوْ مَا يُكَالُ أَوْ مَا يُوْزَنُ أَيَجُوْزُ ذَلِكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قِيْلَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: بِدِفْعِ الدَّرَاهِمَ مُضَارَبَةٌ ثُمَّ يَتَصَدَّقُ بِهَا فِي الْوَجْهِ الَّذِي وَقَفَ عَلَيْهِ

Dari Al-Anshari, dia adalah salah satu sahabat Zufar, ditanya tentang orang yang berwakaf dengan dirham atau dalam bentuk barang yang dapat ditimbang atau ditakar, apakah itu dibolehkan? Al-Anshari menjawab: Iya, boleh. Mereka bertanya bagaimana caranya? Beliau menjawab: dengan cara menginvestasikan dirham tersebut dalam mudharabah, kemudian keuntungannya disalurkan pada sedekahan. Kita jual benda makanan itu, harganya kita putar dengan usaha mudharabah, kemudian hasilnya disedekahkan.” (Hasyiatu Ibni Abidin: 3/374)

Di dalam al-Mudawanah al-Kubra Imam Malik disebutkan:

أَوْ قِيْلَ لَهُ فَلَوْ أَنَّ رَجُلًا حَبَّسَ مِائَةَ دِيْنَاٍر مَوْقُوْفَةٍ يسْلَفَهَا النَّاسُ وَيَرُدُّوْنَهَا عَلَى ذَلِكَ جَعَلَهَا حُبُسًا هَلْ تَرَى فِيْهَا زَكَاةٌ؟ فقال: نَعَمْ أَرَى فِيْهَا زَكَاةٌ

 “Ditanyakan kepada beliau tentang hukum seorang laki-laki yang menjadikan uangnya sebesar seratus dinar sebagai wakaf untuk dipinjamkan kepada masyarakat yang membutuhkan dan akan dikembalikan kepadanya lagi untuk disimpan lagi, apakah harta seperti ini  terkena kewajiban zakat? Beliau menjawab: Ya, saya berpendapat wajib dikeluarkan zakatnya.  (al-Mudawanah al-Kubra: 1/ 380)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa (31/234-235) meriwayatkan satu pendapat dari kalangan Hanabilah yang membolehkan berwakaf dalam bentuk uang, dan hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Qudamah dalam bukunya al-Mughni (8/229-230).

Pendapat Yang Benar

      Dari dua pendapat di atas, maka pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan wakaf tunai hukumnya boleh, karena tujuan disyariatkan wakaf adalah menahan pokoknya dan menyebarkan manfaat darinya. Dan wakaf uang yang dimaksud bukanlah dzat uangnya tapi nilainya, sehingga bisa diganti dengan uang lainnya, selama nilainya sama.

     Kebolehan wakaf tunai ini telah ditetapkan pada konferensi ke- 15, Majma’ al-Fiqh al-Islami  OKI, No : 140 , di Mascot, Oman, pada tanggal 14-19 Muharram 1425 H/ 6-11 Maret 2004 M.  Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa kebolehan wakaf tunai, pada tanggal 11 Mei 2002.

     Wakaf Tunai juga sudah dituangkan dalam Peraturan Menteri Agama No. 4/ 2009 dan dalam Undang-undang nomor 41 tahun 2004 diatur dalam pasal 28 sampai pasal 31. Wallahu A’lam .

Minggu, 21 Januari 2018

Laporan Penghimpunan dan Pentasharufan Tahun 2017


Klik/sentuh untuk gambar yang lebih besar


Ingin berkonsultasi? Silahkan kirimkan pesan Anda

Nama

Email *

Pesan *